Terjebak, KTT ASEAN di Tengah Konflik AS dan China yang Makin Meruncing

9 September 2020, 15:32 WIB
Terjebak, KTT ASEAN Ditengah Konflik AS dan China yang Makin Meruncing, Ini Tantangannya /

RINGTIMES BALI - Di tengah konflik dua negara besar, Amerika Serikat (AS) dan China, para menteri luar negeri anggota Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) memulai serangkaian konferensi tingkat tinggi (KTT) regional, Rabu September 2020. Hal ini tentu menjadi tantangan KTT tersebut dimana gesekan AS dan China makin meruncing dari hari ke hari.

Dalam pertemuan ini, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi memperingatkan Amerika Serikat dan China agar tidak melibatkan negara-negara Asia Tenggara dalam pertarungan geopolitik mereka.

"Kami tidak ingin terjebak oleh persaingan ini," kata Retno menjelang Forum Regional ASEAN, yang akan berlangsung pada 12 September.

Baca Juga: Raja Salman Mendadak Telpon Vladimir Putin, Ditekan AS Karena Tak Mau Berdamai dengan Israel

Retno mengatakan ASEAN tidak ingin berpihak, namun juga menggambarkan peningkatan militerisasi di Laut China Selatan sebagai hal yang "mengkhawatirkan".

Untuk diketahui, Amerika Serikat telah berbicara keras menentang China dalam hal perdagangan, teknologi, dan perilaku maritimnya.

Selain itu, Presiden Donald Trump telah mengumandangkan pendekatan kerasnya terhadap China menjelang pemilihan presiden AS.

Baca Juga: Dikecam, Serbia Langgar Hukum Internasional jika Pindahkan Kedubesnya di Israel ke Yerussalem

Washington menuduh Beijing menindas tetangganya dengan mengirim kapal ke dekat operasi energi lepas pantai mereka, dan menuding China sebagai oportunis karena mengadakan latihan militer dan menguji perangkat keras pertahanan baru di beberapa wilayah yang disengketakan, sementara negara-negara yang terkait sengketa sedang memerangi wabah virus corona.

Namun, China mengatakan tindakannya sebagai suatu hal yang sah.

Sejak pertengahan Agustus, Amerika Serikat telah berulang kali membuat marah China dengan mengirim sejumlah kapal perang ke Laut China Selatan dan Selat Taiwan, serta menerbangkan pesawat pengintai di atas kegiatan latihan tembak militer China.

Baca Juga: Menlu Retno, Palestina Selalu Dekat di Hati dan Ada dalam Setiap Helaan Nafas Indonesia

AS juga memasukkan 24 entitas China ke daftar hitam atas keterlibatan mereka dalam membangun dan memiliterisasi pulau-pulau buatan.

"Kami (ASEAN) tidak ada keinginan untuk memihak - atau terlihat melakukannya," kata Collin Koh, pakar keamanan internasional dari Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam Singapura, seperti dikutip Ringtimes Bali dari laman ANTARA melalui Reuters, Rabu 9 Spetember 2020.

Ke-10 anggota ASEAN tersebut adalah Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Baca Juga: Militer China Terus Bangun Kekuatan, Taiwan 'Ketar Ketir' Mau Diserang?

Sebagai gantinya, ASEAN akan membahas dengan China kemajuan perundingan tata perilaku maritim yang telah lama tertunda, dan pengembangan serta akses untuk vaksin Covid-19, ujar Koh.

Dia mengungkapkan bahwa pembicaraan antara ASEAN dengan Amerika Serikat akan mendesak tindakan menahan aksi militer dan investasi yang lebih besar dari perusahaan Amerika. Kedua pihak akan berusaha untuk "tidak berfokus pada persaingan yang semakin intensif".

Diketahui, pertemuan ini diharapkan akan mengupayakan kolaborasi untuk melawan ancaman global dan untuk mencoba mengurangi aksi saling balas antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia AS dan China yang bersaing untuk menanamkan pengaruh.

Baca Juga: Pembom Siluman Nuklir AS Diboyong ke Pangkalan Udara Samudra Hindia, China Ketar-Ketir

Rusia, Jepang, Australia, Korea Selatan, dan India termasuk di antara negara-negara yang secara jarak jauh bergabung dalam KTT yang diselenggarakan oleh Vietnam.

Pembahasan dalam KTT itu akan mencakup forum keamanan 27 negara, seiring meningkatnya kekhawatiran tentang retorika dan konflik yang tidak disengaja, dan tentang negara-negara lain yang terjebak dalam keributan.

"Situasi geopolitik dan geoekonomi regional, termasuk Laut China Selatan, mengalami peningkatan volatilitas yang merusak perdamaian dan stabilitas," kata Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc dalam pidato pembukaannya pada KTT ASEAN.

Baca Juga: 'Jangan Remehkan Kami', Tulisan di Rudal Tiongkok pada Amerika

Menteri Luar Negeri Vietnam Pham Binh Minh dalam pidato pembukaannya mengatakan bahwa peran hukum internasional dan lembaga multilateral saat ini sedang "sangat ditantang".***

Editor: Tri Widiyanti

Sumber: Permenpan RB REUTERS

Tags

Terkini

Terpopuler