Jerinx SID Datangi Polda Bali Tidak Pakai Masker

6 Agustus 2020, 18:19 WIB
Drummer Superman Is Dead I Gede Ari Astina alias Jerinx SID, didampingi Kuasa Hukum Wayan Gendo Suardana, SH mendatangi Ditreskrimum Polda Bali untuk diperikasa /tim ringtimes bali

RINGTIMES BALI- Janji Drummer Superman Is Dead I Gede Ari Astina alias Jerinx SID untuk diperiksa di Ditreskrimum Polda Bali ditepati.

Didampingi Kuasa Hukum Wayan Gendo Suardana, SH, Jerinx datang tidak mengenakan masker seperti yang dilakukannya saat demo tolak rapid test dua pekan lalu.  

Jerinx SID datangi Ditreskrimsus Polda Bali, Kamis (6/8/2020) sekitar pukul 10.30 Wita. Sebelum naik ke lantai 3 tempat pemeriksaan penyidik Ditreskrimsus Polda Bali, sejumlah awak media cetak dan elektronik mencegatnya.

Baca Juga: Pasien Sembuh di Jembrana Bertambah, Bupati Artha Minta Tetap Taati Protokol Kesehatan

Kepada awak media, Jerinx sangat yakin apa yang dilakukannya itu sepenuhnya benar. Bahkan dia tidak bermaksud negatif atau buruk.

"Yang saya lakukan itu murni sebatas kritikan sebagai warga negara," ujar suami Nora Alexandra itu.

Karena merasa tidak melakukan kesalahan, Jerinx mengaku tidak akan minta maaf seperti yang diberitakan di media.

Baca Juga: Motor Terbang Bukan Mimpi Lagi? Coba Cek Harganya!

"Saya tidak akan minta maaf karena saya tidak punya kebencian. Saya tidak punya niat menghancurkan perasaan para anggota IDI. Saya tidak punya kebencian personal terhadap IDI", ujarnya.

Meskipun dipolisikan, Jerinx mengaku tidak akan berhenti untuk mengkritik. Selama untuk kepentingan umum, dia  punya hak untuk bersuara.

"Saya tegaskan, kritikan saya ini bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kepentingan lapisan masyarakat bawah. Selama ketidakadilan itu terjadi saya,  akan terus mengkritik," tegasnya.

Baca Juga: Harga Bunga Mitir dan Bunga Pacar Galuh Naik secara Signifikan

Menurutnya, postinganya itu merupakan empati kepada rakyat dari semua kejadian yang diketahuinya lewat media massa ataupun media sosial sebelumnya.

"Layanan kesehatan terhambat hanya gara-gara prosedur rapid tes. Sementara alat rapid itu hasilnya tidak akurat. Hal itu juga disampaikan oleh Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia mengeluarkan surat edaran untuk melarang kewajiban rapid tes sebagai syarat layanan kesehatan. Itu dikeluarkan pada 24 April. Fakta di lapangan justeru terbalik," tegasnya.

Menurut Jerinx, dirinya tidak sedang mencari sensasi dipublik. Justru, katanya dengan melancarkan kritikan, dia ditinggal oleh beberapa sponsor dan dimusuhi orang.

Baca Juga: Lowongan Kerja UD Tulus Ayu Abadi, Denpasar Bali

"Jadi ini bukan sensasi. Kritikan dilakukan lewat medsos karena platform yang saya miliki untuk berjuang saat ini yang paling ampuh adalah media sosial. Daripada saya ikut demonstrasi menurut saya tidak efektif," ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, Jerinx dilaporkan Ikatan Dokter Indonesia Bali terkait dugaan ujaran kebencian dan pencemaran nama baik, Selasa (16/6/2020).

Dalam cuitanya Jerinx menyebutkan jika IDI dan Rumah Sakit merupakan kacung WHO karena mewajibkan rapid test bagi wanita yang hendak melahirkan.

Baca Juga: Artificial Intelligence Berbahaya? Coba Cek Fakta Berikut

"Gara-gara bangga jadi kacung WHO, IDI dan Rumah Sakit dengan seenaknya mewajibkan orang yang akan melahirkan untuk tes covid-19. Sudah banyak bukti hasil tes ngawur kenapa dipaksakan" tulis Jerinx di akun instagramnya.***(K-01)

Editor: Moh. Husen

Tags

Terkini

Terpopuler