Rugi Miliaran Rupiah, Pengusaha Asal Bali Gugat WNA Hong Kong

- 8 Februari 2024, 19:26 WIB
Apriadi Abdi Negara (kanan baju biru) selaku kuasa hukum pengusaha Piet Arja Saputra, menjelaskan kepada awak media terkait kerugian yang dialami kliennya, Rabu (7/2/2024) di PN Denpasar. ~
Apriadi Abdi Negara (kanan baju biru) selaku kuasa hukum pengusaha Piet Arja Saputra, menjelaskan kepada awak media terkait kerugian yang dialami kliennya, Rabu (7/2/2024) di PN Denpasar. ~ /Ringtimes Bali/Pikiran Rakyat Media Network/Dre

RINGTIMES BALI - Alami kerugian sekitar Rp 7,8 miliar, membuat pengusaha asal Bali bernama Piet Arja Saputra menggugat seorang warga negara asing (WNA) asal Hong Kong, Chan Peter Ho Kwan, di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Rabu (7/2/2024).

Kasus ini bermula, ketika Arja Saputra melalui
PT Unipro Konstruksi Indonesia (UKI) miliknya, melakukaan kerjasama bisnis dengan membuka rekening giro pada Bank Panin untuk pengerjaan proyek design pada tiga lokasi lounge bandara, yaitu di Bandara Ngurah Rai Bali, Ahmad Yani Semarang, dan Sepinggan Balikpapan.

"Dalam kesepakatan bisnis itu, segala pembiayaan kegiatan ditransfer melalui bank Panin Gatot Subroto dengan memanfaatkan fasilitas layanan perbankan termasuk token elektronik, namun dalam perkembangannya, token yang jadi fasilitas perbankan milik klien kami, justru telah diambil secara paksa dengan cara-cara yang terindikasi melawan hukum," ucap Apriadi Abdi Negara selaku kuasa hukum Piet Arja Saputra, seusai agenda pembacaan gugatan di PN Denpasar, Rabu (7/2/2024).

Baca Juga: Pemkot Gelar Pasar Murah Sambut HUT ke-236 Kota Denpasar, Berikan Kemudahan Masyarakat Berbelanja Bahan Pokok

Abdi menjelaskan, akibat pengambilan paksa token elektronik tersebut, menyebabkan kliennya mengalami kerugian materiil mencapai Rp 7,8 miliar lebih.

"Karena selama penggunaannya ada indikasi digunakan secara tidak wajar dan melawan hukum, nilai yang ditransaksikan secara melawan hukum di Bank Panin, Rp 7,8 milyar, itu tanpa sepengetahuan dari klien saya. Tidak ada pertanggungjawaban secara keuangan. Jadi klien saya dirugikan," jelas Abdi sembari mempertanyakan prinsip kehati-hatian dan SOP Bank Panin yang dinilainya telah kecolongan.

Selain gugatan perdata, dia menyatakan telah juga membuat pengaduan terhadap WNA Hong Kong tersebut ke Polresta Denpasar. Karena menurutya selama kasus perdata ini masih bergulir di persidangan, kliennya kerap mendapat intimidasi berupa hinaan dan fitnah melalui pesan WhatsApp.

"Klien kami juga menempuh upaya hukum ke Polresta Denpasar terkait UU ITE. Hal ini demi keamanan dan ketentraman keluarganya," ungkapnya. 

Lebih lanjut Abdi menambahkan, pihaknya juga membuat laporan kepada Imigrasi Ngurah Rai atas dugaan penyalahgunaan ijin tinggal tergugat Chan Peter Ho Kwan.

Halaman:

Editor: Dian Effendi


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Pemilu di Daerah

x