Mengenang 1 Tahun Kepergian BJ Habibie, Presiden ke 3 RI

- 11 September 2020, 19:49 WIB
Mengenang 1 Tahun Kepergian BJ Habibie, Presiden ke 3 RI /dok

RINGTIMES BALI - Hari ini, 11 September 2020, menjadi momen satu tahun kepergian Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie. Habibie  menjadi Presiden RI pertama yang dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata. Sebab, presiden lainnya dimakamkan di tempat yang berbeda-beda. Presiden ke-3 Republik Indonesia itu meninggal dunia pada usia 83 tahun akibat gagal jantung

BJ Habibie yang merupakan presiden ketiga Indonesia adalah seorang tokoh yang dikenal karena kecerdasannya. Sebelumnya, B.J. Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-7, menggantikan Try Sutrisno. B. J. Habibie menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998.

Dari sekian banyak presiden Indonesia, B. J. Habibie yang lahir pada 25 Juni 1936 merupakan satu-satunya Presiden yang berasal dari etnis Gorontalo, Sulawesi dari garis keturunan Ayahnya yang berasal dari Kabila, Gorontalo dan etnis Jawa dari ibunya yang berasal dari Yogyakarta. Beliau pernah studi teknik penerbangan dan spesialisasi konstruksi pesawat terbang yang berhasil juga merakit pesawat Indonesia pada masa itu.

Baca Juga: ICW: Pungli Bansos Covid-19 Paling Banyak di Jakarta, Bali Penyelewengan Bansos

Bacharuddin Jusuf Habibie merupakan nama lengkap dari BJ Habibie. Beliau menempuh pendidikan SMA di SMAK Dago, Kota Bandung pada tahun 1954, kemudian melanjutkan pendidikan di ITB (Institut Teknologi Bandung). Namun, hanya beberapa bulan di ITB kemudian Ia memutuskan untuk mengikuti jejak teman-temannya untuk bersekolah di Jerman.

Namun berbeda dengan yang lainnya, Ia tidak menggunakan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliahnya di Jerman melainkan dengan menggunakan biaya sendiri dari ibunya yaitu R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Mengingat pesan Bung Karno tentang pentingnya penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yaitu teknologi maritim dan teknologi dirgantara dikala Indonesia waktu itu masih berkembang akhirnya BJ Habibie diberi kesempatan belajar di Jerman.


Habibie mewarisi kondisi keadaan negara kacau balau pasca pengunduran diri Soeharto pada masa orde baru, sehingga menimbulkan maraknya kerusuhan dan disintegerasi hampir seluruh wilayah Indonesia. Segera setelah memperoleh kekuasaan Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet.

Baca Juga: 40 ribu Pekerja Pariwisata Bali Dapat Bantuan Kementerian Pariwisata, Cek Apakah Kamu Termasuk

Salah satu tugas pentingnya adalah kembali mendapatkan dukungan dari Dana Moneter Internasional dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan ekonomi.


Pada era pemerintahannya yang singkat ia berhasil memberikan landasan kukuh bagi Indonesia, pada eranya dilahirkan UU Anti Monopoli atau UU Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik dan yang paling penting adalah UU otonomi daerah. Melalui penerapan UU otonomi daerah inilah gejolak disintegrasi yang diwarisi sejak era Orde Baru berhasil diredam dan akhirnya dituntaskan di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Halaman:

Editor: I GA Putu Yuliani Dewi

Sumber: Berbagai sumber


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X