Para Perantau di Ubud Kompak Bantu Korban Terdampak COVID-19

- 23 Mei 2020, 13:00 WIB
Ilustrasi PHK dan Dirumahkan.*

RINGTIMES BALI – Aksi sosial komunitas para perantau di Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, dengan membantu sesama (perantau) yang kurang beruntung karena kena PHK, dirumahkan, kehilangan banyak pendapatan dan tidak bisa pulang ke kampung halaman sebagai dampak dari pandemik COVID-19.

Andreas Tanesto, Ketua Perantau Peduli Sesama di Ubud, Kabupaten Gianyar, Jumat (22/5/2020) mengatakan, “Kami membagikan sejumlah uang, makanan dan sembako kepada mereka menjelang Hari Raya Idul Fitri. Ini merupakan aksi pertama, semoga bisa terus bergulir seperti bola salju yang makin membesar.”

Menurut dia pada tahap pertama ini, ada 17 perantau yang menerima bantuan sosial. Mereka umumnya tinggal di Ubud, dan sekitar Kabupaten Gianyar.

Baca Juga: Kemenag Umumkan Idul Fitri 1441 Hijriah Positif Jatuh pada Minggu

“Ini baru langkah pertama sebagai inspirasi yang mungkin dapat mengetuk para perantau yang beruntung di Ubud yang memiliki usaha untuk membantu para sesama yang saat ini kurang beruntung terkena dampak pandemi COVID-19,” ujar Andreas, perantau asal Surabaya.

Menurut dia, banyak perantau di Ubud, yang bernasib kurang beruntung karena hotel tempat kerja mereka tutup, begitu juga dengan bisnis toko kerajinan (artshop), restoran, salon kecantikan dan SPA. Sebagian besar kena PHK, dan "terjebak" tidak bisa pulang kampung.

Hal ini mungkin terjadi pula di berbagai kota dan daerah lain di Bali. “Kami para perantau di Ubud melakukan aksi peduli sesama berharap daerah lain, para perantau yang beruntung sudi membantu saudara mereka, sesama perantau yang kurang beruntung. Saat pandemi ini merupakan momentum para perantau di Ubud dan daerah lainnya di Bali untuk solidaritas, kompak dan bersatu, saling membantu melewati masa pandemi ini,” kata Demos Runtukahu, juru bicara komunitas perantau, keturunan Manado-Dayak.

Baca Juga: Lahir Pada Masa Pandemi, Bayi Jerapa di Bali Diberi Nama Corona

Ia menambahkan komunitas perantau ini berasal dari berbagai daerah dan agama, begitu juga dengan penerima bantuan sosial itu terdiri dari berbagai daerah dan agama.

Indra Santoso, perantau di Ubud yang sudah 20 tahun, mengatakan kepada semua perantau untuk tetap semangat, terus bekerja dan jangan lupa terus berdoa kepada Tuhan. Karena pengalaman tinggal di Bali telah mengalami beberapa tantangan, seperti saat bom Bali. "Kita pasti bisa melewati badai ini, apalagi kita saling membantu, saling berjabatantangan dalam menghadapi pandemi ini," katanya.

Indra adalah pemandu wisata freelance. Ia banyak kehilangan pendapatan karena pariwisata di Bali bisa dikatakan mati saat ini. Semua objek wisata kini ditutup sementara, semua penerbangan internasional dan domestik juga dihentikan sementara.

Baca Juga: Setelah Muncul Hasil Rapid Test 12 Orang di Desa Werdi Bhuawa Reaktif

Tri, seorang ibu rumah tangga, membagi cerita tantangan hidupnya saat pandemi ini. “Suami saya dulu sering dapat pekerjaan mengantar tamu (wisatawan), tapi kini banyak menganggur karena pariwisata di Bali terperosok. Saya dan suami kini hidup dari jualan gorengan. Anak kami ada yang kuliah di Universitas Udayana. Anaknya sudah minta berhenti kuliah untuk bantu orang tua. Tapi kami cegah,” tutur dia.

“Dalam masa sulit ini, kami tidak putus asa. Puji syukur ada saja teman yang membantu. Oleh karena itu, saya mau membagi semangat kepada semua perantau untuk tidak pantang menyerah, dan jangan lupa untuk terus selalu berdoa kepada Tuhan,” kata Tri, perantau asal Jawa Tengah. (*)

 

Editor: Dian Effendi

Sumber: antaranews


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X